Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Pemerintahan

Wali Kota Blitar Kenang Jejak Merah Putih 14 Februari 1945 di Monumen Potlot

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : Dede Nana

17 - Aug - 2026, 14:35

Placeholder
Wali Kota Blitar H. Syauqul Muhibbin (Mas Ibin) mengenang jejak sejarah perjuangan di Monumen Potlot, kawasan TMP Raden Wijaya, Kota Blitar, seusai Ziarah Nasional, Senin (17/8/2026). Monumen ini menjadi penanda pengibaran Merah Putih saat Pemberontakan PETA Blitar pada 14 Februari 1945. (Foto: Aunur Rofiq/JatimTIMES)

JATIMTIMES – Wali Kota Blitar H. Syauqul Muhibbin mengenang jejak perjuangan Merah Putih yang berkibar di Blitar pada 14 Februari 1945, enam bulan sebelum Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Ingatan sejarah itu mengemuka saat pria yang akrab disapa Mas Ibin tersebut mengikuti Ziarah Nasional di Taman Makam Pahlawan (TMP) Raden Wijaya, Kota Blitar, Senin (17/8/2026).

Ziarah yang berlangsung sekitar pukul 10.30 WIB itu menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Kota Blitar. Seusai prosesi penghormatan, Mas Ibin menaburkan bunga dan berdoa di sejumlah pusara pahlawan, termasuk makam tanpa identitas, sebelum menuju Monumen Potlot yang berada di kawasan TMP Raden Wijaya.

Baca Juga : Tangkap Peluang di Pasar Minuman, Klojen Tebu Tawarkan Olahan Tebu Berbagai Varian

Bagi Mas Ibin, ziarah tidak sekadar menjadi agenda seremonial. Deretan pusara di TMP Raden Wijaya mengingatkan bahwa kemerdekaan lahir dari pengorbanan yang tidak ringan.

“Para pejuang bangsa telah memberikan tetesan keringat, darah, bahkan banyak juga yang wafat di medan pertempuran,” kata Mas Ibin.

Ia mengaku tersentuh ketika melihat makam para pahlawan tak dikenal. Menurut dia, pusara tanpa nama menjadi simbol kuat tentang ketulusan orang-orang yang berjuang tanpa mengharapkan penghormatan pribadi.

“Saya agak terharu, beberapa makam itu tanpa nama atau pahlawan tak dikenal. Begitu ikhlasnya beliau-beliau berjuang untuk kemerdekaan Indonesia sampai namanya saja tidak dikenal. Itu pengorbanan yang luar biasa untuk bangsa Indonesia,” ujarnya.

Dari Pahlawan Tak Dikenal, Pesan Menjaga Persatuan

Ibin

Mas Ibin mengatakan generasi sekarang memiliki tanggung jawab menjaga warisan para pejuang. Pengorbanan mereka, menurut dia, seharusnya menjadi alasan kuat bagi masyarakat untuk merawat persatuan serta tidak mudah mempertanyakan NKRI dan Merah Putih.

Ia menilai tantangan generasi saat ini memang berbeda dengan masa perang. Namun, semangat mempertahankan keutuhan bangsa tetap harus sama.

“Sekali merdeka tetap merdeka, sekali NKRI tetap NKRI. Sekali Merah Putih tetap Merah Putih. Merah Putih harus ada di dada kita,” tegasnya.

Pesan itu juga berkaitan erat dengan posisi Blitar sebagai kota yang menyimpan banyak simpul sejarah perjuangan. Selain menjadi tempat bersemayamnya Bung Karno, Blitar memiliki jejak Pemberontakan PETA pada 14 Februari 1945 yang menjadi salah satu peristiwa penting menjelang lahirnya Indonesia merdeka.

Menurut Mas Ibin, sejarah semacam itu perlu terus diperkenalkan kepada generasi muda. Bukan sekadar untuk membangun kebanggaan, tetapi juga agar masyarakat memahami bahwa kemerdekaan lahir melalui keberanian, pengorbanan, dan persatuan.

Monumen Potlot, Jejak Kibaran Merah Putih Sebelum Proklamasi

Potlot

Mas Ibin kemudian meninjau Monumen Potlot di kawasan TMP Raden Wijaya. Monumen tersebut menandai lokasi pengibaran Merah Putih pada 14 Februari 1945, saat meletus Pemberontakan PETA Blitar melawan pendudukan Jepang yang dipimpin Shodanco Supriyadi.

Baca Juga : Pemprov Jatim Kerahkan Tim SAR, Tenaga Kesehatan hingga Bantuan Logistik untuk Korban Gempa NTT

Dalam catatan sejarah, Shodanco Partohardjono menjadi sosok yang bertanggung jawab atas pengibaran bendera di lapangan depan markas PETA Blitar. Merah Putih itu dipersiapkan secara diam-diam bersama istrinya, Sukmi, lalu dibawa pada malam pemberontakan.

Peristiwa tersebut terjadi sekitar enam bulan sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945. Pada masa pendudukan Jepang, pengibaran Merah Putih tidak bebas dilakukan. Karena itu, tindakan Partohardjono memiliki makna simbolik yang kuat: keberanian memperlihatkan identitas kebangsaan sekaligus kehendak untuk merdeka.

“Termasuk tadi kita melihat Monumen Potlot di TMP Raden Wijaya ini. Pada 14 Februari 1945, saat Pemberontakan PETA Blitar, bendera Merah Putih dikerek sebagai simbol kemerdekaan untuk bangsa Indonesia,” ujar Mas Ibin.

Monumen itu kemudian menjadi penanda ingatan kolektif atas peristiwa tersebut. Catatan sejarah juga menyebut Panglima Besar Jenderal Sudirman pernah mengunjungi lokasi itu setelah Indonesia merdeka dan memberikan penghormatan kepada para pejuang.

Bagi Mas Ibin, jejak tersebut mempertegas bahwa Blitar memiliki mata rantai penting dalam perjalanan menuju kemerdekaan. Karena itu, ia menilai warga Blitar memiliki alasan kuat untuk merawat memori sejarah sekaligus meneruskannya kepada generasi berikutnya.

“Untuk warga Blitar, kita cukup berbangga. Karena kemerdekaan ini dimulai juga dari Blitar pada 14 Februari 1945,” katanya.

Delapan puluh satu tahun setelah Proklamasi, Monumen Potlot dan pusara para pahlawan di TMP Raden Wijaya tetap membawa pesan yang sama. Kemerdekaan bukan hanya peristiwa masa lalu, tetapi warisan yang perlu dijaga melalui persatuan, penghormatan terhadap sejarah, serta kerja nyata membangun masyarakat dan bangsa.


Topik

Pemerintahan wali kota blitar hut ri monumen potlot pemkot blitar



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Situbondo Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

Dede Nana

Pemerintahan

Artikel terkait di Pemerintahan