Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Peristiwa

Apa Itu Heat Dome? Fenomena Pemicu Gelombang Panas di Eropa, Apakah Indonesia Berisiko Mengalaminya?

Penulis : Mutmainah J - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

02 - Jul - 2026, 14:28

Placeholder
Ilustrasi panas ekstrem. (Foto: Pixabay)

JATIMTIMES - Sejumlah negara di Eropa tengah menghadapi gelombang panas ekstrem pada musim panas 2026. Suhu udara di beberapa wilayah bahkan menembus 40 derajat Celsius. Salah satu penyebab utama kondisi tersebut adalah fenomena heat dome atau kubah panas yang membuat udara panas bertahan lebih lama di suatu wilayah.

Fenomena ini menjadi perhatian dunia karena mampu memperparah gelombang panas dan meningkatkan risiko kesehatan masyarakat. Lantas, apa sebenarnya heat dome, dan apakah kondisi serupa dapat terjadi di Indonesia?

Baca Juga : Sarah Gibson Pilih Cerai usai Bongkar Perselingkuhan Suami 

Mengenal Heat Dome

Mengutip NPR, perwakilan Badan Cuaca Nasional Amerika Serikat (National Weather Service), Alex Lamer, menjelaskan bahwa heat dome merupakan area bertekanan tinggi yang sangat luas dengan massa udara panas yang terperangkap di atas suatu wilayah.

Sistem tekanan tinggi tersebut bekerja layaknya penutup atau kubah. Udara panas terus terdorong ke bawah sehingga sulit bergerak keluar. Akibatnya, suhu permukaan meningkat dari hari ke hari dan kondisi panas dapat berlangsung dalam waktu yang cukup lama.

Sementara itu, ilmuwan iklim dari Climate Central, Zachary Labe, yang dikutip AP News, menyebut heat dome sebagai salah satu faktor utama yang memicu terjadinya gelombang panas (heat wave). Ketika fenomena ini berlangsung, suhu dapat melonjak jauh di atas rata-rata normal dan berdampak pada kesehatan, lingkungan, hingga aktivitas masyarakat.

Eropa dan Amerika Serikat Dilanda Panas Ekstrem

Fenomena heat dome tidak hanya dirasakan di Eropa. Amerika Serikat juga mengalami suhu yang jauh lebih tinggi dari biasanya sepanjang tahun 2026.

Bahkan, pada Maret 2026, Amerika Serikat mencatat kondisi terpanas yang tidak normal dalam lebih dari satu abad pencatatan iklim. Panas ekstrem tersebut kemudian menjadi salah satu perhatian menjelang penyelenggaraan Piala Dunia FIFA 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Memasuki Juni 2026, gelombang panas meluas ke sejumlah negara Eropa. Beberapa wilayah di Spanyol, Italia, Portugal, hingga Prancis melaporkan suhu mendekati bahkan melampaui 40 derajat Celsius.

Apakah Heat Dome Bisa Terjadi di Indonesia?

Masyarakat Indonesia tidak perlu khawatir heat dome akan terjadi seperti di Eropa. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena tersebut umumnya berkembang di wilayah lintang menengah hingga tinggi, sedangkan Indonesia berada di kawasan ekuator dengan karakter atmosfer yang berbeda.

Dalam penjelasan di laman resminya, BMKG menyebut cuaca di Indonesia dipengaruhi dinamika atmosfer tropis yang berubah relatif cepat. Karena itu, mekanisme pembentukan heat dome seperti di Eropa tidak mudah terjadi di wilayah Indonesia.

Baca Juga : Bitcoin Bidik US$67.300? Data Makro dan Analisis Teknikal Kompak Beri Sinyal Bullish

Meski demikian, bukan berarti Indonesia terbebas dari cuaca panas. Saat musim kemarau, suhu udara dapat meningkat akibat langit yang cerah dan minim tutupan awan. Kondisi tersebut membuat sinar matahari lebih maksimal memanaskan permukaan bumi.

Tetap Waspadai Suhu Panas dan Kelembapan Tinggi

Walaupun heat dome tidak diperkirakan melanda Indonesia, masyarakat tetap perlu mewaspadai cuaca panas yang disertai tingkat kelembapan tinggi.

Kelembapan udara dapat membuat tubuh terasa lebih gerah dibandingkan suhu sebenarnya. Kondisi ini meningkatkan indeks panas (heat index), sehingga tubuh lebih sulit mendinginkan diri melalui penguapan keringat.

Jika paparan panas berlangsung terlalu lama tanpa perlindungan yang memadai, risiko gangguan kesehatan seperti kelelahan akibat panas (heat exhaustion) hingga heatstroke dapat meningkat, meskipun suhu udara tidak mencapai 40 derajat Celsius seperti yang terjadi di sejumlah negara Eropa.

Karena itu, masyarakat disarankan tetap menjaga kecukupan cairan tubuh, menghindari aktivitas berat di bawah terik matahari dalam waktu lama, serta memperhatikan informasi cuaca yang disampaikan BMKG, terutama saat musim kemarau berlangsung.


Topik

Peristiwa Gelombang Panas panas ekstrem eropa hebat dome



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Situbondo Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Mutmainah J

Editor

Sri Kurnia Mahiruni

Peristiwa

Artikel terkait di Peristiwa