Bupati Situbondo H. Dadang Wigiarto SH mengkunjungi destinasi wisata Perkampungan Aren di Dusun Oloh RT.020 RW.006, Desa Patemon, Kecamatan Bungatan, Kabupaten Situbondo, Sabtu (21/04/2018).
Dusun di atas gunung yang ditumbuhi pohon aren secara alami tersebut akan dijadikan destinasi wisata perdesaan yakni kearifan lokal berupa unsur kebudayaan, potensi alam, sejarah, adat istiadat dan kuliner unggulan. "Para pengunjung akan disajikan aktraksi berupa pembuatan dan pengolahan gula merah aren secara tradisional, tantangan memisahkan daun aren dengan lidinya," jelas Bupati Situbondo.
Ada sekitar 15 hektar Hutan Aren yang bisa menghidupi warga setempat. Dan anehnya, pohon aren tersebut diyakini masyarakat setempat tidak bisa ditanam di tempat lain. "Berdasarkan dialog yang disampaikan Kades Patemon dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) menjelaskan banyak potensi destinasi wisata pedesaan di Desa Patemon, Kecamatan Bungatan yang akan kita gali. Diantaranya sejak zaman pra sejarah ada beberapa keunikan yang menonjol yakni Sarfobagus dan Sepundan berundak-undak. Pada zaman sejarah ada persinggahan Majapahit yang ditandai dengan adanya daun lontar," terangnya.
Adat istiadat yang ada di Desa Petemon ini juga sangat menopang destinasi wisata yang akan digali. "Adapun potensi wisata di Kampung Oloh, Desa Patemon, Kecamatan Bungatam, yakni industri kreatif pengolahan tradisional gula merah aren, ijuk untuk bahan baku sapu dan saringan pembersih air, usaha sapu lidi tradisional dan daun lontar sebagai pembungkus bongkahan gula merah aren," jelas Bupati.
Sementara itu, keterangan yang disampaikan Ketua Kelompok Sadar Wisata Kabupaten Situbondo, Agung menjelaskan, potensi adat dan budaya di desa tersebut, diistilahkan dengan kata sapajhek, sakerek, pamalo, eres dan sebagainya merupakan bagian dari penggunaan bahasa masyarakat setempat yang digunakan untuk ukuran jumlah gula aren merah.
"Secara adat, setiap masyarakat yang memanjat dan mengambil nira aren dari kebunnya mereka, tidak bisa di sapa oleh orang lain. Sebab, nira yang mereka panjat dari pohon aren diyakini nira yang akan diolah, tidak akan jadi gula merahnya bahkan pohon arennya tidak akan menghasilkan air nira lagi," terang Ketua Pokdarwis Kabupaten Situbondo, Agung.
Sedangkan, kata Agung, potensi atraksi yang ditampilkan masyarakat setempat, antara lain memisahkan daun lontar dengan lidinya. "Para pengunjung akan disuguhkan atraksi memisahkan daun lontar dengan tingkat kesulitan yang tinggi. Jika sobek maka daun itu tidak bisa berfungsi sebagai pembungkus gula merah, jika lidinya patah maka tidak bisa menjadi sapu," jelas Agung.
Tak hanya itu saja yang disampaikan Agung, para pengunjung bisa melihat dan melakukan proses olah nira aren menjadi gula merah. "Potensi alam hutan aren yang dimiliki Dusun Oloh, Desa Bungatan tersebut terbesar di wilayah Jawa Timur dengan luas hutan aren kurang lebih 15 hektar," papar Agung.
Di Kampung Gebangan, sambung Agung, sistem pengolahan pertaniannya masih tradisional, dan di blok Bendusa ada gugusan batuan sarkofagus sebagai karya budaya masyarakat jaman 2500-1500 sebelum masehi, dimana masyarakat pada waktu itu masih belum mengenal huruf. "Sarkofagus ini adalah sebuah kuburan yang dibuat dari batu dengan dimensi ukuran rata rata 2,5 - 3 meter yang tersebar di seluruh dusun Desa Patemon. Data sementara ada 76 titik sarkofagus. Kawasan ini sementara bisa disebut sebagai kawasan sarkofagus terbesar di Indonesia dalam 1 wilayah desa," tuturnya.
Batuan punden berundak dan menhir di Bukit Maseghit, imbuh Agung, adalah salah satu pesona wisata sejarah yang sulit ditemui dimanapun di Indonesia. Budaya peradaban masa lampau ini adalah salah satu destinasi wisata unggulan di Desa Patemon. "Ada beberapa hukum adat yang harus dipatuhi oleh para pengunjung, seperti hari Jum'at dilarang naik ke puncak, dilarang berbuat asusila, dilarang sombong dan berbuat tidak baik di area ini," jelasnya.
Di Kampung Krajan Dua, Desa Patemon, kata Agung, terdapat potensi view alam yang sangat eksotis dengan panorama gunung putri tidur tersuguhkan yang terlihat di depan Balai Desa Patemon. "Filosofi nama Desa Patemon bisa dilihat langsung dengan kita di beberapa titik warung kopi yang tidak namun tidak menyerupai warung kopi pada umumnya. Mereka datang dari berbagai kampung sebelah untuk sekedar menikmati ngopi dan bercengkrama setiap hari yang terbagi dalam 3 waktu yakni, pagi, siang dan malam," pungkasnya.
Kunjungan tersebut bupati didampingi oleh Ketua TP PKK, Kadis PUPR, Kadis Perumahan dan Permukiman, Kadis Pendidikan dan Kebudayaan, Kadis Pariwisata pemuda dan Olahraga, Kadis Kominfo dan Persandian, Kadis Koperasi dan UMKM, Kadis Lingkungan Hidup, Kadis Pengelolaan Keuangan Daerah dan Aset, Kapolsek Bungatan, Danramil Bungatan, Camat Bungatan, Kades Patemon.
