SEISMOSOSIOEKONOMI | Situbondo TIMES

SEISMOSOSIOEKONOMI

Mar 09, 2022 16:46
Guru Besar FMIPA Universitas Brawijaya
Guru Besar FMIPA Universitas Brawijaya

JATIMTIMES - Dalam dunia explorasi yang menggunakan gelombang gempa, yaitu peledakan dinamit atau perangkat lainnya, maupun kejadian gempa bumi, dikenal adanya suatu gelombang, yang dinamakan gelombang seismic. Kalau dalam explorasi, biasanya menggunakan sumber atau bersifat aktif (meledakkan dinamit), sedangkan dalam gempa bumi, adalah bersifat pasif, yaitu adanya peralatan recorder, yang merekam gelombang seismic , hasil dari gempa tersebut.

Untuk kali ini, penulis akan membahas gelombang seismic aktif (dinamit, dll). Ketika kita menggunakan sumber seismic aktif, tentunya akan memerlukan biaya yang cukup besar, karena akan melibatkan perijinan, survey/eksplorasi pendahuluan untuk menentukan kedalaman sumber seismic, sehingga didapatkan hasil yang maksimal, karena sifat dari sumber seismic tersebut adalah terkontrol dengan baik. Sifat sifat tersebut diantaranya adalah, frekuensi dan energi ledakannya. Kalau ingin didapatkan hasil yang detil, lapisan bawah permukaan yang tipis, yang masih diinginkan bisa dibedakan, tentunya akan digunakan sumber seismic yang mempunyai frekuensi tinggi (periode kecil). Sementara, jika yang diinginkan adalah jangkauannya yang dalam, maka akan digunakan sumber yang mempunyai frekuensi kecil, atau periode besar. Kelemahannya adalah, lapisan batuan yang kecil, tidak akan terdeteksi. Lapisan batuan tersebut akan terdeteksi jika lebih tebal dari periode sumber seismic tersebut (secara gampangnya).

Baca Juga : Polemik Wayang: Dari UKB, Gus Dur sampai Muhadjir

Bagaimana pinsip gelombang seismic ini jika dikaitkan dengan prinsip ekonomi dan sosial?. Sebetulnya, keduanya adalah juga peristiwa alam. Mengikuti juga kaidah kaidah hukum alam. Seperti, jika bumi dianggap homogen isotropi (mempunyai sifat yang sama ke segala arah), maka penyebaran gelombang kesegala arah akan mempunyai waktu dan besar yang sama pada jarak yang sama. Prinsip pertama, biasanya, untuk men simpelkan keadaan, maka bumi dianggap homogen isotropi. Jadi kalau tidak ada kondisi anomaly (penyimpangan dari kondisi normal), maka penyebaran gelombang akan simetri bola, yaitu sama ke segala arah. 

Dalam bidang ekonomi dan sosial, maka semestinya juga sesuai dengan hukum alam tersebut. Jika ada suatu kegiatan ekonomi dan sosial di suatu tempat, maka jika tidak ada anomali, penyebaran ekonomi tersebut akan menyebar dengan sifat simetri lingkaran. Semakin dekat dengan pusat ekonomi dan sosial, akan semakin ikut terimbas dari kegiatan tersebut, dan sebaliknya semakin jauh, maka kegiatan tersebut tidak mempengaruhi daerah tersebut. Hal seperti ini, kalau dikaitkan dalam prinsip gelombang, biasanya dikatakan dengan prinsip Huygen. 

Prinsip Fermat, adalah salah satu prinsip dalam pola penjalaran gelombang. Suatu gelombang akan merambat melalui waktu terpendek untuk mencapai suatu lokasi, dan bukan jarak terpendek. Kondisi yang seperti ini, sudah memasukkan prinsip, bahwa bumi tidaklah homogen isotropis, tetapi sebaliknya, yaitu anisotropi. Dalam suatu kegiatan ekonomi dan sosial, distribusi barang ataupun informasi (saat ini informasi sudah tidak bisa sebagi parameter lagi), diperlukan melalui waktu terpendek, bukan jalur terpendek. Jika perlu adalah waktu terpendek dan sekaligus jalur terpendek. Hal inipun sudah terbiasa didalam distribusi barang.

Nah, bagian yang lain adalah, ternyata dalam kejadian suatu gempa bumi, jarak terpendek dengan sumber gempa, bukanlah jaminan untuk menderita kerusakan paling parah. Tetapi faktor fisik bumi lah yang menentukan, kenapa sudah daerah mempunyai kerusakan yang besar walaupun jauh dari sumber, dan sebaliknya mempunyai kerusakan kecil, walaupun dekat dengan sumber. Faktor faktor yang dimaksud adalah : Kerentanan seismic, amplifikasi (penguatan) seismic dan juga faktor lokal lainnya yaitu reaktifasi dari suatu patahan. Dalam bidang ekonomi dan sosial lainnya, sepertinya juga akan berkelakuan seperti hal tersebut. Artinya, adanya suatu sumber kegiatan ekonomi ataupun sosial lainnya di suatu tempat, bisa jadi imbas pada daerah yang jauh lebih besar dari daerah yang dekat. Suatu daerah yang mempunyai kerentanan sosial dan ekonomi tinggi, biasanya akan menderita dan kurang bisa memanfaatkan adanya kegiatan sosial dan ekonomi, walaupun jaraknya dekat. Sebaliknya, suatu daerah yang mempunyai kerentanan sosial dan ekonomi rendah, maka walaupun jauh, bisa mendapatkan dan menikmati dari adanya kegiatan ekonomi dan sosial tersebut. Kerentanan sosial dan ekonomi tinggi contohnya adalah daerah yang sengaja menutup diri, tidak mau mendapatkan informasi baru. Tahunya, hanyalah “dari dulu sudah seperti ini. Maka ya mari kita lakukan seperti ini”. Hal hal seperti ini sangat bisa mempengaruhi perkembangan dan situasi ekonomi dan sosial di suatu daerah.

Baca Juga : Pesan Inspirasif Revousi Mental Kiai Haedar

Maka dari itu, menjadi daerah yang tertutup, yang bisa dikatakan mempunyai kerentanan ekonomi dan sosial yang tinggi, sebisanya dihindari. Hal ini sama dengan, kita harus menghindari suatu daerah yang mempunyai kerentanan seismic yang tinggi. Sepertinya, perlu dikaji lebih jauh, keterkaitan peristiwa alam dengan kejadian sosial dan ekonomi di daerah kita masing masing.

Topik
Opini gelombang seismic

Segala opini, saran, pernyataan, jasa, penawaran atau informasi lain yang ada pada isi/konten adalah tanggungjawab penulis bukan JatimTIMES.com.
Kami berhak menolak atau menyunting isi konten yang tidak sesuai dengan kode etik penulisan dan kaidah jurnalistik.
Kami juga berhak menghapus isi/konten karena berbagai alasan dan pertimbangan dan tidak bertanggungjawab atas kegagalan atau penundaan penghapusan materi tersebut.

Berita Lainnya