Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Olahraga

Slow Jogging di Korsel Viral, Dokter Ungkap Manfaatnya untuk Pemula hingga Lansia

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

13 - Jul - 2026, 18:45

Placeholder
Potret slow joging yang viral di Korea Selatan. (Foto: Instagram)

JATIMTIMES - Tren olahraga slow jogging tengah mencuri perhatian di Korea Selatan. Di media sosial, beredar video yang memperlihatkan sekelompok ibu-ibu berolahraga bersama di sebuah taman dengan cara berlari sangat pelan.

Dalam video yang viral, mereka tampak kompak mengenakan kaus putih, celana hitam, serta topi. Meski berlari, mereka tetap bisa mengobrol santai dan tertawa bersama, sehingga aktivitas tersebut terlihat lebih ringan dibanding lari pada umumnya.

Baca Juga : Pesawat Terbang Ryanair Bikin Geger, Penumpang Tersedot Keluar Lewat Jendela saat Mengudara

Lantas, apa sebenarnya slow jogging dan apa saja manfaatnya bagi kesehatan?

Apa Itu Slow Jogging?

Sesuai namanya, slow jogging merupakan teknik berlari dengan kecepatan yang sangat lambat. Kecepatannya hanya sekitar 3-5 kilometer per jam (km/jam), atau hampir setara dengan jalan santai.

Berbeda dengan lari konvensional, slow jogging mengutamakan langkah yang pendek dan ritme yang nyaman sehingga pelakunya masih dapat berbicara tanpa terengah-engah selama berolahraga.

Metode ini dinilai cocok bagi orang yang baru mulai berolahraga, lansia, hingga mereka yang memiliki berat badan berlebih.

Dokter umum sekaligus Certified Health Coach, dr. Dion Haryadi, menilai slow jogging merupakan pilihan olahraga yang baik bagi pemula.

"Saya izin menambahkan ya. Slow jogging ini menurut saya cocok banget buat pemula, terutama lansia dan yang berat badannya masih berlebih," ujar dr. Dion melalui video edukasinya dikutip di Instagram, Senin (13/7/2026). 

Menurut dr. Dion, teknik langkah pendek menjadi salah satu alasan olahraga ini lebih ramah bagi tubuh.

"Kenapa? Karena kalau kamu perhatikan, langkahnya itu lebih pendek. Jadi tumpuan badan itu nggak terlalu jauh di depan badan kayak lari biasa. Ini bikin benturannya jadi lebih ringan dan mengurangi beban di sendi lutut." lanjutnya. 

Ia menjelaskan, karakter tersebut membuat slow jogging tergolong latihan dengan benturan rendah atau low impact. "Latihannya itu jadi low impact. Tapi karena gerakan kakinya cepat, intensitasnya juga masih cukup tinggi." ujar dr. Dion. 

Meski dilakukan dengan santai, dr. Dion mengatakan manfaat slow jogging tetap cukup besar bagi kesehatan. "Sehingga bisa bantu melatih otot jantung kita. Tekanan darah terkontrol, ada elemen fat loss-nya juga, dan bantu jaga kesehatan metabolik." imbuhnya. 

Namun ia mengingatkan bahwa slow jogging tetap merupakan latihan kardio sehingga belum bisa menggantikan latihan kekuatan otot.

Baca Juga : Soroti BUMD Bermasalah, Banggar DPRD Jatim Kunci Modal Baru Sebelum Audit Kinerja

"Nah tapi walaupun banyak manfaatnya, tetap harus diingat bahwa slow jogging ini adalah latihan kardio. Dan tidak termasuk sebagai latihan beban yang berguna untuk menjaga masa otot dan sangat dibutuhkan oleh semua lapisan usia, terlebih lagi lansia." jelasnya. 

Bagi masyarakat yang ingin serius menekuni olahraga lari, dr. Dion juga menyarankan agar nantinya mulai mempelajari teknik berlari yang benar.

"Plus juga buat teman-teman pemula yang berencana untuk lari dengan lebih serius nantinya, ikut event dengan jarak lebih jauh. Nanti di satu titik harus mempertimbangkan form larinya juga. Yang pasti akan berubah dari slow jogging ini." paparnya. 

Meski begitu, ia menilai slow jogging bisa menjadi langkah awal yang tepat bagi siapa saja yang ingin mulai aktif bergerak.

"Tapi pada akhirnya, saya percaya latihan fisik terbaik adalah yang bisa kamu lakukan sekarang juga. Kebanyakan orang itu terlalu banyak alasan untuk mulai. Dan slow jogging ini bisa jadi awalan yang tepat untuk kamu," pungkasnya. 

Dilansir dari laman Slow Jogging Korea, metode olahraga ini sebenarnya dikembangkan oleh mendiang Prof. Hiroaki Tanaka dari Departemen Ilmu Olahraga Universitas Fukuoka, Jepang.
Pengembangan metode tersebut merupakan hasil riset selama lebih dari 40 tahun. Popularitasnya mulai meningkat setelah diperkenalkan melalui siaran stasiun televisi NHK pada 2009.

Pada 2015, perwakilan Korea Selatan, Jung Ra-hye, datang langsung ke Jepang untuk mempelajari teknik serta metode pengajaran slow jogging dari Prof. Tanaka. Langkah itu menjadi awal berkembangnya komunitas slow jogging di Negeri Ginseng.

Setahun kemudian, Ketua Asosiasi Slow Jogging Jepang, Ujiayama, bersama Prof. Hiroaki Tanaka diundang ke Korea Selatan untuk menandatangani kerja sama bilateral sekaligus mendirikan Korea Slow Jogging Association.

Sejak saat itu, pelatihan, sertifikasi instruktur, hingga komunitas slow jogging terus berkembang dan kini menjadi salah satu tren olahraga yang digemari masyarakat Korea Selatan.


Topik

Olahraga Slow Jogging Korsel Viral Manfaat Slow Jogging Lansia



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Situbondo Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Sri Kurnia Mahiruni

Olahraga

Artikel terkait di Olahraga