JATIMTIMES - Pihak Mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Makan Bergizi Gratis Bakalanpule akhirnya angkat bicara dan memberikan klarifikasi secara terbuka kepada masyarakat.
Hal itu sehubungan dengan munculnya bau tak sedap dari selokan di sekitar lokasi dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bakalanpule, Kecamatan Tikung, Kabupaten Lamongan, yang sempat memicu dugaan adanya pencemaran lingkungan yang berasal dari aktivitas pengolahan makanan di dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Baca Juga : SE Idul Adha 2026 Diterbitkan, Hewan Kurban Masuk Surabaya Wajib Vaksin PMK dan Kantongi SKKH
Kepala SPPG Bakalanpule, Rizky Setya Wihatama, menegaskan bahwa genangan air yang berada di sekitar selokan tersebut bukan berasal dari limbah dapur maupun sisa pengolahan makanan di lokasi SPPG. Menurutnya, kondisi selokan yang terlihat kotor dan mengeluarkan bau tak sedap merupakan aliran air dari berbagai arah yang bermuara di titik sekitar dapur SPPG.
“Bukan berasal dari dapur kami. Genangan limbah itu berasal dari segala arah dan kebetulan berhenti di sekitar lokasi dapur SPPG kami. Jadi kembali saya tegaskan itu murni selokan yang genangan airnya berhenti,” ujar Rizky saat dikonfirmasi, Rabu (13/5/2026).
Ia menjelaskan, kondisi cuaca yang beberapa hari terakhir tidak turun hujan membuat aliran air di selokan menjadi tidak lancar. Akibatnya, sampah dan endapan lumpur terlihat menggenang di beberapa titik hingga menimbulkan aroma kurang sedap.
Menurut Rizky, pihaknya memahami keresahan masyarakat yang muncul akibat kondisi tersebut. Karena itu, SPPG Bakalanpule memilih untuk memberikan penjelasan secara langsung agar tidak terjadi kesalahpahaman di tengah masyarakat.
Ia juga memastikan bahwa operasional dapur SPPG selama ini telah menerapkan prosedur kebersihan dan pengelolaan limbah sesuai standar yang berlaku. Seluruh aktivitas pengolahan makanan, kata dia, dilakukan dengan pengawasan ketat demi menjaga kualitas makanan maupun kebersihan lingkungan sekitar.
“Kami memahami adanya persepsi masyarakat terkait bau yang muncul di sekitar lokasi dapur. Namun kami memastikan bahwa itu bukan berasal dari limbah dapur SPPG,” tegasnya.
Sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan sekitar, Rizky menyebut seluruh pegawai dan tim SPPG Bakalanpule dalam minggu ini akan melaksanakan kerja bakti bersama untuk membersihkan area selokan yang dipenuhi sampah dan rumput liar.
Kegiatan tersebut meliputi pembersihan endapan sampah, pemotongan rumput di sekitar saluran air, hingga normalisasi aliran selokan agar air dapat kembali mengalir lancar dan tidak menimbulkan genangan.
“Kami akan serentak melakukan kerja bakti untuk membersihkan rumput-rumput dan juga sampah yang terlihat berhenti di selokan itu. Kami juga memohon maaf atas kesalahpahaman ini,” ungkap Rizky.
Baca Juga : TradiSea Rooms & Resto: Ketika Sebuah Meja Makan Menjadi Cara Pulang
Langkah tersebut, lanjutnya, merupakan bentuk tanggung jawab sosial dari pihak SPPG terhadap lingkungan sekitar, meskipun genangan air tersebut dipastikan bukan berasal dari aktivitas dapur.
Sementara itu, warga sekitar yang sehari-hari berjualan soto ayam di dekat area SPPG Bakalanpule turut memberikan penjelasan terkait kondisi selokan tersebut. Supinah (65), penjual soto yang sudah lama berjualan di kawasan itu, mengatakan bahwa selokan tersebut memang sudah ada sejak bertahun-tahun lalu dan sering menjadi titik berkumpulnya aliran air dari berbagai arah.
Menurutnya, kondisi air yang tampak menggenang belakangan ini lebih disebabkan karena cuaca panas dan minimnya curah hujan sehingga aliran air tidak mengalir maksimal.
“Itu memang selokan sudah ada sejak dulu, dan itu pertigaan selokan dari segala arah. Kebetulan beberapa hari ini tidak ada hujan, jadi sampah dan genangan air terlihat berhenti di situ,” kata Supinah.
Ia mengaku selama ini kondisi selokan memang terkadang mengeluarkan bau ketika aliran air tersumbat sampah atau endapan lumpur, bahkan jauh sebelum dapur SPPG beroperasi di kawasan tersebut.
Warga berharap persoalan tersebut dapat segera ditangani melalui kerja bakti bersama agar lingkungan kembali bersih dan tidak menimbulkan polemik berkepanjangan di tengah masyarakat.
Di sisi lain, keberadaan program MBG melalui dapur SPPG sendiri saat ini menjadi bagian penting dalam mendukung pemenuhan gizi masyarakat, khususnya bagi pelajar dan kelompok penerima manfaat lainnya. Karena itu, pihak pengelola berharap masyarakat tetap mendukung program tersebut sembari bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan sekitar.
