JATIMTIMES - Di tengah sulitnya ekonomi saat pandemi COVID-19 pada 2019–2020 lalu, banyak masyarakat harus memutar otak untuk tetap bertahan. Hal itulah yang menjadi titik awal lahirnya UMKM bumbu pecel milik Silvia Andriani, warga Jalan Ikan Mas VI/2, Kecamatan Lowolwaru, Kota Malang.
Berawal dari keinginan membantu orang sekitar yang kesulitan pekerjaan, Silvia justru menemukan peluang usaha yang kini terus berkembang. Ia mengaku, ide membuat bumbu pecel muncul secara tidak sengaja, saat mencoba meracik dan membagikannya kepada teman-temannya.
Baca Juga : 5 Mobil Listrik Rasa Flagship 2026, Harga Mulai Rp200 Jutaan Tapi Fitur Mewah
“Awalnya itu sekitar masa-masa Covid, banyak yang cari kerja. Saya juga bingung mau bantu bagaimana. Kebetulan waktu itu coba bikin bumbu pecel sekali, ternyata banyak yang cocok,” kata Silvia, Sabtu (28/3/2026).
Respons positif dari lingkungan sekitar membuatnya semakin percaya diri untuk melanjutkan usaha tersebut. Bahkan, dorongan dari teman-temannya menjadi pemicu utama hingga akhirnya memutuskan untuk memproduksi dan menjual bumbu pecel secara serius.
“Dari situ saya disuruh bikin lagi dan coba dijual. Ya sudah, sekalian saja niatnya juga bantu-bantu orang supaya bisa ikut produksi. Alhamdulillah sampai sekarang keterusan,” imbuh Silvia.
Produk bumbu pecel buatannya hadir dalam beberapa varian rasa, mulai dari sedang, manis, hingga pedas. Keunggulan utamanya terletak pada tekstur bumbu yang halus dan tidak berminyak, meskipun diproses tanpa mesin oil press.
“Menurut testimoni konsumen, bumbu pecel saya itu lebih halus, rasanya pas, dan tidak terlalu berminyak. Jadi teksturnya agak kesat karena bahan-bahannya benar-benar saya pilih, terutama gula merahnya,” jelas Silvia.
Ia juga menekankan pentingnya kualitas bahan dan proses produksi yang higienis, mulai dari pemilihan bahan hingga pengolahan.
“Bahan harus benar-benar bagus dan pilihan. Teknik pengolahannya juga diperhatikan, dari cara membersihkan sampai proses produksinya,” tegasnya.
Tak hanya digunakan sebagai saus sayuran, bumbu pecel miliknya juga memiliki keunikan lain. Konsumen bahkan kerap menikmatinya tanpa diseduh air, atau dijadikan bahan tambahan berbagai menu.
“Katanya sih enak juga buat cocolan gorengan, bahkan ada yang dimakan langsung. Bisa juga jadi pecek tempe atau terong, tinggal tambah santan,” katanya.
Seiring berjalannya waktu, usaha ini pun berkembang hingga menembus pasar luar negeri. Produk bumbu pecel khas Malangan tersebut sudah dibawa hingga ke Korea Selatan dan Amerika Serikat oleh para pelanggannya.
Baca Juga : Mengenal FIFA Series, Ajang yang Bisa Naikkan Ranking Timnas Indonesia di FIFA
“Alhamdulillah sudah ada yang bawa ke luar Jawa, bahkan sampai Korea dan Amerika,” ungkap Silvia.
Permintaan biasanya meningkat pada momen tertentu, seperti musim umrah, haji, dan Lebaran, di mana bumbu pecel kerap dijadikan oleh-oleh khas. “Biasanya ramai saat musim umrah, haji, atau Lebaran. Banyak yang beli untuk oleh-oleh,” ucap Silvia.
Dalam sekali produksi, Silvia mampu menghasilkan sekitar 15 kilogram bumbu pecel. Produksi tersebut dilakukan sekitar dua hingga tiga kali dalam sebulan, menyesuaikan dengan permintaan pasar.
Meski tergolong sederhana, Silvia memilih usaha bumbu pecel karena dinilai praktis, bahan mudah didapat, serta memiliki daya tahan yang cukup lama.
“Bumbu pecel itu praktis, bahannya mudah didapat, penjualannya juga lumayan, dan yang penting bisa tahan lama,” katanya.
Ke depan, Silvia berharap usahanya dapat terus berkembang, tidak hanya dari sisi produksi tetapi juga dalam membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar.
“Harapannya bisa nambah karyawan dan membuka peluang usaha lebih luas, supaya bisa bantu orang-orang yang butuh kerja,” harap Silvia.
