Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Parah di Jawa Timur, BMKG Ingatkan Dampak El Niño

Reporter

Redaksi

Editor

Redaksi

14 - Apr - 2026, 09:51

Ilustrasi Musim Kemarau

Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Timur memprakirakan musim kemarau 2026 di wilayah Jawa Timur akan datang lebih lambat, namun berlangsung lebih panjang dan lebih kering dibandingkan kondisi normal.

Perubahan pola musim ini dipengaruhi oleh potensi kemunculan fenomena El Niño pada pertengahan tahun 2026, yang diketahui dapat menekan pembentukan awan hujan di Indonesia.

Baca Juga : Bupati Sanusi Kunjungi Puskesmas Dampit hingga Turen, Pastikan Fasilitas dan Layanan Berjalan Baik

Berdasarkan analisis BMKG, sekitar 75,5 persen wilayah Jawa Timur diperkirakan mengalami curah hujan di bawah normal. Kondisi ini membuat sebagian besar daerah berpotensi menghadapi musim kemarau yang lebih ekstrem.

Wilayah seperti Tapal Kuda, Madura, hingga sebagian Mataraman menjadi area yang diprediksi paling terdampak, terutama dalam hal ketersediaan air dan sektor pertanian.

BMKG juga memperkirakan puncak musim kemarau akan terjadi pada Agustus 2026. Pada periode tersebut, sebanyak 53 Zona Musim (ZOM) diprediksi mencapai kondisi paling kering.

Selain itu, sekitar 46,2 persen wilayah diperkirakan mengalami keterlambatan awal musim kemarau. Meski datang lebih lambat, durasi kemarau justru berpotensi lebih panjang di sejumlah wilayah.

Peluang terjadinya El Niño pada pertengahan tahun mencapai 50–60 persen, yang semakin memperkuat potensi musim kemarau panjang dan kering di Jawa Timur.

Kondisi ini berpotensi menimbulkan berbagai dampak, antara lain:

  • Penurunan produksi pertanian, terutama tanaman padi
  • Risiko krisis air bersih di wilayah rawan kekeringan
  • Peningkatan potensi kebakaran hutan dan lahan
  • Gangguan kesehatan akibat cuaca panas dan kering

Menghadapi kondisi tersebut, BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk melakukan langkah antisipasi sejak dini.

Di sektor pertanian, petani disarankan menggunakan varietas tanaman tahan kekeringan serta menyesuaikan kalender tanam dengan prakiraan cuaca.

Selain itu, masyarakat umum juga diminta untuk menghemat penggunaan air, memaksimalkan penampungan air hujan, serta menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.

Baca Juga : Pemkot Surabaya Tetapkan Jam Tanpa Gawai 18.00–20.00 untuk Lindungi Ruang Digital Anak

Pemerintah daerah diharapkan mulai menyiapkan strategi mitigasi, seperti distribusi air bersih, pembangunan embung, serta penguatan sistem peringatan dini.

Di balik potensi dampak negatif, musim kemarau panjang juga membuka peluang di beberapa sektor. Produksi garam rakyat berpotensi meningkat seiring kondisi cuaca yang lebih kering.

Selain itu, pemanfaatan energi surya juga diperkirakan lebih optimal karena intensitas sinar matahari yang tinggi.

Dengan memahami prakiraan sejak dini, masyarakat diharapkan dapat lebih siap menghadapi musim kemarau 2026, baik dalam mengurangi risiko maupun memanfaatkan peluang yang ada.