Mengenal Suku Orang Darat, Pemukiman Asli di Pulau Rempang Batam

26 - Sep - 2023, 01:47

Orang suku Darat Pulau Rempang. (Foto screenshot)

JATIMTIMES - Pulau Rempang, yang terletak di Kota Batam, Kepulauan Riau, telah menjadi pusat perhatian dalam beberapa hari terakhir. Bentrokan antara warga setempat dan aparat pada Kamis (7/9/2023) telah mengguncang pulau ini.

Ratusan aparat gabungan dikirim ke Rempang Galang pada pagi hari tanggal 7 September 2023 untuk mengamankan petugas yang hendak mengukur dan mematok lahan di pulau ini. Namun, rencana ini berujung pada kericuhan ketika warga setempat mencoba menghalangi mereka dengan melempari aparat menggunakan batu.

Baca Juga : BMKG Sebut 10 Wilayah di Jatim Ini Tidak Mengalami Hujan Terpanjang hingga Lebih dari Dua Bulan

Aparat datang dengan peralatan anti huru hara, termasuk watercanon, gas air mata, dan kendaraan taktis lainnya, untuk mempertahankan rencana pembangunan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB) Batam yang dikenal sebagai Rempang Eco City.

Pembangunan proyek ini akan mengubah wajah Pulau Rempang, dengan PT Makmur Elok Graha (MEG) berinvestasi sebesar Rp 381 triliun untuk membangun kawasan investasi terpadu di atas lahan seluas 17 ribu hektar.

Akan tetapi, keputusan itu menimbulkan kontroversi besar karena mengancam hak-hak masyarakat yang telah tinggal di pulau tersebut selama berabad-abad.

Dengan adanya kasus ini sekaligus membuka beberapa fakta pulau Rempang. Dimana, pulau ini tak hanya sekadar lahan kosong. Dilansir dari akun Tiktok @goodnewsfromindonesia, pulau ini adalah tempat tinggal bagi Orang Darat, yang diyakini sebagai penduduk asli Batam. Jumlah mereka sekarang hanya tinggal sembilan orang.

Tampilan Orang Darat, kulitnya lebih gelap dari orang Melayu. Mereka tidak terbiasa hidup di laut. Mereka tidak memiliki sampan dan hidup dari bercocok tanam. Mereka hidup dari bercocok tanam, mencari hasil hutan. Kalau kondisi air pasang, mereka baru mencari kepiting dan lokan. Nantinya dibarter dengan orang Tionghoa yang memiliki kebun gambir yang ada di Pulau Rempang.

Orang-orang sering menyebut kelompok itu suku hutan, tetapi mereka lebih suka menyebut diri Orang Darat. Suku Orang Darat tidak hidup seperti sekarang, mereka hidup secara nomaden atau berpindah-pindah karena hutan di Pulau Rempang cukup luas.

Penelitian soal Suku Orang Darat dilakukan oleh peneliti asal Jerman bernama Hans Kahler. Dirinya melakukan penelitian di Pulau Batam dan Pulau Rempang pada Juli - September 1939 di mana dia menemui 13 Orang Darat.

Disebutkan oleh Kahler, Suku Orang Darat merupakan pemburu yang ulung. Kebanyakan mereka memelihara anjing dan memiliki senjata sumpit serta tombak. Mereka mengkonsumsi hampir semua jenis hewan di hutan, kecuali ular berbisa.

Baca Juga : Rumah Hijau dan Asri, Karpet Rumput Sintetis dari Graha Bangunan Ini Bisa Jadi Solusi

Sementara itu, catatan Suku Orang Darat juga bisa dilihat dari seorang pejabat Belanda, Elisa Netscher yang pernah berkunjung ke Pulau Rempang sekitar tahun 1946. Kala itu Pulau Rempang dihuni oleh Suku Melayu Galang, Orang Darat, dan Orang Laut.

Tetapi Suku Orang Darat yang bermukim di Pulau Rempang mendekati punah. Populasinya kian minim, jumlahnya kini diyakini tidak sampai puluhan orang. Mereka tinggal di Kampung Sadap, Rempang, Galang, Kota Batam.

Kondisi mereka kini juga semakin terdesak karena adanya rencana dibuatnya New City (Kota Baru) di Pulau Rempang. Walau pihak pengembang menyatakan tak akan menyia-nyiakan warga setempat termasuk Suku Orang Darat.

Tetapi sejak terbukanya Pulau Rempang lewat kehadiran Jembatan Barelang, kehidupan Orang Darat makin tersudut. Mereka yang biasanya hidup nomaden di hutan-hutan Pulau Rempang terdesak oleh pemukiman dan usaha.

Di sisi lain, Orang Darat juga dikenal sebagai komunitas yang introvert terhadap orang luar. Mereka juga tidak terbiasa untuk berbaur. Kehidupan nomaden membuat karakter mereka sangat tertutup dari orang luar.